Mengenal Lebih Dekat Paper Asset

Selamat membaca

Paper Asset merupakan instrumen investasi di pasar modal, di antaranya obligasi, reksadana, dan saham. Di Profita Institute, kami fokus mengedukasi dan memberikan pelatihan analisa saham kepada peserta.

Saham adalah bukti kepemilikan kita di suatu perusahaan. Tapi, ini hanya berlaku untuk perusahaan yang sudah berstatus “Tbk”; di belakang nama perusahaan tertera status “Tbk”.
Perusahaan seperti ini sudah mengalokasikan sekian persen sahamnya untuk dimiliki oleh publik. Siapapun boleh membelinya

Saham tersebut tidak bisa dibeli langsung ke perusahaan yang dimaksud. Tetapi, harus melalui pasar atau bursa yang disebut dengan Bursa Efek Indonesia. Nasabah juga hanya bisa bertransaksi melalui perusahaan sekuritas. Jadi, bertransaksi di pasar modal akan melibatkan nasabah, bank kustodian, perusahaan sekuritas, KSEI, dan KPEI. Transaksinya aman karena di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Sebelum bertransaksi, nasabah harus membuka Rekening Dana Nasabah (RDN) di perusahaan sekuritas. Nantinya, nasabah akan memperoleh nomor RDN, username, password, dan PIN.
Dana untuk bertransaksi ditransfer ke nomor RDN. Cara bertransaksi dengan mengakses akun yang dimiliki nasabah dengan memasukkan username, password, dan PIN. Username tidak dapat diubah. Password dan PIN bisa diubah sesuai keinginan nasabah. Transaksi dilakukan secara online, bisa melalui PC atau ponsel, dengan terlebih dahulu mengunduh aplikasi yang disediakan oleh sekuritas.
Harga saham termurah di pasar reguler Bursa Efek Indonesia adalah Rp 50 per lembar, antara lain saham-saham milik Bakrie Group. Harga saham termahal saat ini di kisaran Rp 67.000an, milik PT. Gudang Garam Tbk.
Minimal pembelian dan penjualan saham adalah 1 lot atau setara dengan 100 lembar saham. Misalnya kita membeli saham seharga Rp 500 per lembar sebanyak 1 lot, maka kita harus mempunyai dana:
Rp 500 x 1 x 100 = Rp 50.000
Murah, kan?
Saham merupakan instrumen investasi dengan imbal balik tinggi dan kebal inflasi. Apabila kita menabung dalam bentuk deposito, maka kisaran keuntungan per tahun hanya sekitar 7% saja. Ini sudah dikikis oleh inflasi dan belum termasuk pajak. Investasi di saham, kita bisa memperoleh keuntungan di atas 20% per tahun, bahkan lebih.
Selama ini masyarakat Indonesia berinvestasi dalam bentuk tanah, properti, atau emas. Tanah dan properti nilainya tinggi sehingga kita tidak mungkin mencicil. Berbeda dengan saham yang kita bisa membeli setiap bulan. Emas, bukanlah alat investasi, melainkan proteksi. Pertumbuhan emas sejalan dengan inflasi, artinya aset bernilai tetap, tidak tumbuh.
Dalam berbisnis saham, peluang keuntungan ada banyak, tetapi resiko tentu juga ada. Oleh sebab itu, kita harus memulai strateginya.
Di Profita Institute, kami akan menyampaikan kunci untuk:
1. Memilih perusahaan yang harga sahamnya akan berpotensi naik.
2. Waktu yang tepat untuk membeli dan menjual saham.
3. Menentukan membeli dan menjual di harga berapa.
4. Strategi bisnis saham yang bisa dipilih sesuai kenyamanan

Kurikulum kelas kami di Full Day Class of Paper Asset adalah untuk pemula. Bagi yang sudah memiliki jam terbang tinggi, silakan dipertimbangkan apabila ingin ikut serta.
Biaya kelas kami sudah termasuk 1x lunch dan 2x coffee break, pengurusan RDN, materi, dan pendampingan di grup WhatsApp yang gratis.
Profita Institute berada di bawah naungan Panin Sekuritas, dengan kantor hub di Cilacap, Jawa Tengah.
Masyarakat Indonesia perlu diberikan informasi lebih mengenai investasi, khususnya di pasar modal. Istilah sederhananya, ada banyak peluang keuntungan di sana. Mari kita manfaatkan. Untuk diketahui, sebagian besar saham di Indonesia dimiliki oleh asing. Kenapa bukan bangsa kita sendiri yang memiliki perusahaan Indonesia itu?

Melalui pelatihan saham ini, kami mendukung program pemerintah "Yuk Nabung Saham.
Sudah tertarik? Ayo bergabung.

 

LEAVE REPLY

Your email address will not be published. Required fields are marked *